HIKMAH DALAM TUNTUNAN AL-QUR’AN DAN SYARIAT KH EDI ALHIKMAH MLi CILEGON BANTEN



CILEGON|Hikmah adalah kebijaksanaan dan pemahaman yang menjadi karunia Allah SWT. Ilmu dan kemampuan manusia pada hakikatnya terbatas, sedangkan ilmu Allah SWT tidak terbatas.
Allah SWT berfirman:
“Allah menganugerahkan al-hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa dianugerahi al-hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.”
(QS. Al-Baqarah: 269)
Karena itu, sebelum mempelajari Ilmu Hikmah Sinar Keemasan, hendaknya seseorang terlebih dahulu memperkuat dasar-dasar agama. Dimulai dengan belajar Al-Qur’an dengan baik dan benar, termasuk bacaan yang fasih, kemudian mempelajari ilmu fikih, tauhid, dan tasawuf sesuai bimbingan guru yang terpercaya.
Hal tersebut penting agar seseorang memiliki akidah yang kuat, keyakinan yang benar kepada Allah SWT, serta memahami perkara yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.”
(QS. Muhammad: 19)
Al-Qur’an juga mengajarkan agar manusia senantiasa berpegang teguh kepada petunjuk Allah:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Setelah memiliki dasar agama yang kuat, bagi yang ingin mendalami ilmu hikmah hendaknya mencari guru atau kiai yang ahli, amanah, berakhlak baik, dan memahami ilmu agama, kemudian belajar secara bertahap dengan penuh kesungguhan, adab, dan tanggung jawab.
Ilmu yang dipelajari hendaknya digunakan untuk kebaikan, kemaslahatan, dan menolong sesama, bukan untuk kesombongan, merugikan orang lain, ataupun melakukan sesuatu yang bertentangan dengan syariat Islam.
Allah SWT berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Dengan demikian, perjalanan mempelajari ilmu hikmah hendaknya selalu disertai dengan Al-Qur’an, akidah yang benar, ibadah, ilmu fikih, akhlak, dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Apabila ilmu tersebut telah dipahami dengan baik dan mendapatkan izin serta bimbingan dari guru, maka ilmu dapat diajarkan kembali kepada orang yang membutuhkan, dengan tujuan memberikan manfaat bagi keluarga, saudara, kerabat, santri, jamaah, dan masyarakat luas.
Kesimpulan:
Ilmu hikmah hendaknya menjadi jalan untuk semakin mengenal kebesaran Allah SWT, memperkuat ketakwaan, memperbaiki akhlak, dan memberikan manfaat kepada sesama. Ilmu adalah amanah; semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menggunakannya dalam kebaikan.
KH. EDI ALHIKMAH, MLI
Pimpinan Pesantren Tahfidz Darul Hikmah Albantani
Luwungsawo – Kebonsari – Cilegon – Banten. Hp/Wa: 0818471241
26/09/2026/ Red/Admin

Bagikan pengalaman atau tambahan informasi Anda di sini agar pembaca lain bisa belajar bersama. Komentar yang mengandung spam akan otomatis dihapus.

0 Komentar