Cilegon| Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji hanya milik Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman, Islam, kesehatan, serta kesempatan kepada kita untuk terus belajar dan mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, serta seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Dalam setiap proses menuntut ilmu, khususnya mempelajari Al-Qur’an, seorang muslim perlu senantiasa memperbarui niat. Hal tersebut menjadi pesan penting yang disampaikan Ust Mas Adi Basarudin dalam pembelajaran tentang makharijul huruf, yakni tempat keluarnya huruf-huruf hijaiyah.
Menurut Ust Mas Adi Basarudin, belajar Al-Qur’an tidak hanya sebatas mampu membaca huruf demi huruf, tetapi juga memahami bagaimana setiap huruf diucapkan dari tempat keluarnya secara benar. Ketepatan makhraj menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas bacaan dan membantu seorang muslim membaca Al-Qur’an dengan lebih baik.
“Ketika kita belajar, mari selalu memperbarui niat. Belajar bukan untuk merasa lebih hebat dari orang lain, tetapi semata-mata karena Allah SWT dan sebagai upaya untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an,” pesannya.
Lima Makharijul Huruf dalam Pembelajaran
Dalam materi yang disampaikan, dijelaskan bahwa secara umum terdapat lima tempat utama keluarnya huruf hijaiyah, yaitu:
Pertama,Al-jauf (الجوف) atau rongga mulut.
Bagian ini menjadi tempat keluarnya huruf-huruf mad, yaitu alif, wau, dan ya (ا،و،ي)dalam kondisi tertentu.
Kedua, Al-Halq (الحلق) atau tenggorokan.
Makharij ini terbagi menjadi tiga bagian, yakni pangkal tenggorokan, bagian tengah tenggorokan, dan bagian yang lebih dekat dengan rongga mulut. Dari tempat inilah keluar sejumlah huruf seperti hamzah,ha ,'Ain, ha, ghain, dan kha sesuai pembagian makhrajnya.
Ketiga, Al-Lisan (اللّسان)atau lidah.
Lidah merupakan salah satu makhraj dengan pembagian yang luas karena banyak huruf hijaiyah keluar dari berbagai posisi lidah, baik bagian belakang, tengah, sisi, maupun ujung lidah.
Keempat, Asy-Syafatain (الشّفتين) atau dua bibir.Huruf-huruf tertentu keluar melalui pertemuan atau posisi kedua bibir, seperti (ف،ب،م،و)fa, ba, mim, dan wau.
Kelima, Al-Khaisyum (الخيشوم) atau rongga hidung.Bagian ini berkaitan dengan keluarnya suara ghunnah atau dengung, terutama pada bacaan tertentu yang melibatkan huruf nun dan mim.
Memahami Ilmu, Memperbaiki Bacaan
Ust Mas Adi Basarudin menekankan bahwa pemahaman terhadap makharijul huruf harus dibarengi dengan praktik yang berkesinambungan. Seorang pelajar Al-Qur’an perlu mendengarkan contoh bacaan yang benar, kemudian berlatih secara perlahan dan memperhatikan posisi organ pengucapan.
Kesalahan dalam membaca huruf terkadang terjadi karena seseorang belum memahami secara tepat dari mana sebuah huruf harus dikeluarkan. Karena itu, pembelajaran makhraj menjadi dasar penting sebelum seseorang melangkah lebih jauh dalam memperbaiki tajwid dan kualitas tilawahnya.
“Belajar Al-Qur’an membutuhkan kesabaran. Jangan terburu-buru. Perhatikan hurufnya, tempat keluarnya, sifatnya, kemudian ulangi dengan bimbingan guru,” ujar Ust Mas Adi Basarudin.
Niat Menjadi Fondasi Utama
Di tengah semangat mempelajari teori dan praktik makharijul huruf, Ust Mas Adi Basarudin kembali mengingatkan pentingnya menjaga hati. Ilmu yang dipelajari hendaknya membawa seseorang semakin dekat kepada Allah SWT.
Memperbarui niat dapat dilakukan dengan menghadirkan kembali tujuan belajar, yakni beribadah, memperbaiki bacaan Al-Qur’an, mengamalkan ilmu, dan mengharapkan ridha Allah SWT.
Dengan niat yang lurus, proses belajar yang mungkin terasa sulit akan menjadi bagian dari perjalanan ibadah. Sedikit demi sedikit, huruf yang sebelumnya belum tepat dapat diperbaiki melalui kesungguhan, latihan, dan istiqamah.
“Mari kita mulai setiap pembelajaran dengan niat yang baik. Luruskan niat, perbaiki bacaan, hormati guru, dan jangan pernah berhenti belajar. Semoga setiap huruf Al-Qur’an yang kita pelajari menjadi jalan datangnya rahmat dan keberkahan dari Allah SWT,” tutur Ust Mas Adi Basarudin.
Pembelajaran makharijul huruf pada akhirnya bukan hanya tentang kemampuan teknis dalam mengucapkan huruf hijaiyah. Lebih dari itu, ia merupakan bagian dari ikhtiar seorang muslim untuk menjaga kemuliaan bacaan Al-Qur’an dan terus meningkatkan kualitas ibadahnya.
Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita semua dalam mempelajari, membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.Red/Darul Hikmah Albantani
Bagikan pengalaman atau tambahan informasi Anda di sini agar pembaca lain bisa belajar bersama. Komentar yang mengandung spam akan otomatis dihapus.
0 Komentar